Rabu, 31 Juli 2013 0 komentar

Ibadah, Ditunda atau Segera?

Berhubung sekarang  bulan puasa, posting yang berbau2 religi dulu...:D

Tempo hari gue pernah baca artikel ato note FB gue lupa. Tadinya sih mau gue repost, tapi karena lupa tu bacaan ada dimana, akhirnya gue berinisiatif buat nulis ulang disini, karena gue rasa tuh artikel inspiratif banget.

Oke gue mulai aja yak, tapi karena tuh artikel ditulis dengan bahasa yang formal, dan gue ga' pandai nulis dengan bahasa formal, maka gue tulis dengan bahasa gue aja. Tapi Insya Allah intinya sama kok. Kalau kurang ya mohon maap, dan kalau lebih ya mohon maap juga...:D

BONCEL PUNYA ALASAN BUAT NGGA SHOLAT

Untuk ilustrasi kali ini, gue pilih tokoh dengan nama Boncel. Kalau ada kesamaan nama dan kejadian itu hanya kebetulan semata, jangan dimasukin ke hati, apalagi dimasukin kepenjara..:D

Boncel terlahir ditengah keluarga yang biasa2 aja, pasalnya kedua orang tuanya, bukan selebritis, bukan juga superhero. Ya pokoknya biasa lah. Bapak ibunya orang islam, otomatis boncel-pun beragama Islam.

Waktu cepat berlalu, dan ngga' kerasa Boncel sekarang dah berumur 6 taun dan udah sekolah kelas 1 SD. Sebenarnya orang tua Boncel udah membekali Boncel dengan bekal ilmu agama sejak dini, tapi kayaknya bagi Boncel main layangan lebih menarik daripada ngaji, dan main petak umpet lebih asyik dibanding shalat. Yaah Boncel berpikir kalau anak kecil itu belum punya dosa, karena dosa anak kecil masih ditanggung oleh orang tuanya. "Ntar2 aja deh shalatnya kalau udah gedhe", Pikirnya.

Karena dikasih makan dan dipelihara dengan baik, Boncel tumbuh sehat dan sekarang dia udah berumur 12 taun, baru aja lulus SD. Karena Boncel udah sering ngimpi nananina gitu, yang menandakan dia udah akhil baligh, Boncel didaptarin sama orang tuanya buat ikut berpartisipasi di acara sunatan masal. Tapi, setelah akhil baligh dan disunat, Boncel tetap ngga' mau shalat. Pikirnya, "aah dosa gue masih dikit ini, ntar kalau udah SMA gue bakal rajin shalat. Sekarang fokus sekolah dulu biar bisa masuk SMA favorit yang terkenal banyak cewek cantiknya".

Waktu cepat berlalu dan ngga kerasa Boncel sekarang dah berumur 17 taun, dan duduk dikelas 2 jurusan IPA di SMA favorit. Prestasinya bejibun, dari juara olimpiade fisika, sepakbola, nyanyi, tari balet, ampe lomba masak pernah dia menangin. Kesibukanya luar biasa karena harus ikut ekstra kulikuler ini-itu, dan ikut les ini-itu juga. Waktu buat shalat hampir ngga' ada. Dalam hati sebenarnya Boncel ingin membagi waktu antara urusan dunia dan akherat, tapi dengan kesibukanya yang super duper itu, ngga mungkin dia bisa membagi waktu. Bisa2 prestasinya disekolah ancur. Akhirnya urusan akherat dipending dulu. Mungkin kalau udah bisa masuk universitas negri terkemuka besok gue bakal rajin shalat dan beribadah. Saat ini, kejar prestasi dulu.

Boncel emang berotak cemerlang. Dia lulus SMA dengan nilai yang sangat bagus, nilai UAN-nya mendekati sempurna. Bahasa Indonesia dapet 9, bahasa Inggris 10, matematika 11. Dengan mudah Boncel-pun masuk universitas negri yang ia damba2kan. Namun tak disangka, jadi anak kuliahan ga' segampang yang ia kira. Tugasnya bejibun, bikin laporan lah, bikin makalah, presentasi, tugas praktek, dll dsb dst. Belum lagi pas semester 3 si Boncel udah jadi ketua BEM, disemester 5 udah jadi asisten dosen, semester 6 udah sering diajak proyekan sama dosen, dan disemester 7 udah jadi rektor. Kesibukan Boncel makin menjadi2. Ngga ada waktu lagi buat sembahyang. Untuk sekedar Jumatan seminggu sekali-pun Boncel sering titip absen sama temenya. Tapi biarlah, cita2 Boncel adalah jadi orang sukses. Untuk itu tak ada jalan lain selain berprestasi dibangku kuliah biar pas lulus cepet dapat kerjaan. "Pokoknya kalau udah kerja mapan, gue bakal mulai sembahyang". Batin Boncel.

Waktu memang cepat berlalu, baru beberapa menit lalu gue nulis kalau Boncel baru masuk perguruan tinggi, sekarang gue udah mau nulis kalau Boncel lulus kuliah dengan predikat kumlot, eh cumlaude dalam waktu cuma 3,5 menit tahun. Dia lulus dengan predikat lulusan terbaik ketiga dibawah Albert Einstein dan BJ Habibie. Yah, ngga' buruk2 amat lah...

Ngga' butuh waktu lama buat Boncel dapet kerjaan. Cuma selang setangah bulan sejak dia lulus, dia udah dapet kerjaan di salah satu perusahaan produsen Racun Tikus terkemuka di Indonesia. Posisinya ngga' main2, langsung jadi supervisor yang membawahi 25rb prajurit, menyaingi Panglima Tiangfeng. Gajinya pun disebut2 melebihi gaji Oblak Syahputera, seorang komedian yang kelakuan dan omonganya sama2 ember itu. Tak lama Boncel-pun menikahi wanita pujaanya sejak jaman SMA dulu, namanya Bambang.

Namun konsekuensi dari pekerjaanya menuntut dia harus lembur tiap hari. Waktu tidur yang normalnya 8 jam sehari, hanya dia gunakan selama 3 jam. Waktu kumpul bareng keluarga cuma sejam sehari, dan waktu beribadah sama sekali ngga' ada. Lainya dia habiskan buat bekerja. Semua itu demi obsesinya menjadi orang yang sukses. Pernah temenya menasehati agar Boncel lebih meluangkan waktu buat keluarga dan beribadah. Namun Boncel punya jawabanya sendiri. Menurutnya semua yang dia lakuin ini semata2 buat kebahagiaan keluarganya. Dengan mengumpulkan uang sebanyak2nya, maka hari tuanya bersama keluarga akan terjamin. Dan saat itulah dia bakalan mencurahkan semua waktunya untuk keluarga dan beribadah kepada Allah. Rencana yang sempurna menurut dia.

Tak terasa hari tua yang ditunggu2 Boncel-pun datang. Boncel pensiun dari pekerjaanya, dan bersiap menikmati hasil jeripayah-nya selama bertahun2. Namun Tuhan berkehendak lain, Boncel divonis mengidap penyakit kanker rahim. Hari senjanya dihabiskan keluar-masuk rumah sakit, harta/benda yang ia kumpulkan bertahun2 berangsur habis untuk biaya pengobatanya. 

Belum sempat ia menikmati buah kerja kerasnya dengan keluarga, belum sempat juga ia menepati janjinya bersujud beribadah kepada Allah, malaikat maut lebih dulu mencabut nyawa Boncel. Di akhir dia memang berkumpul dengan jamaah shalat, sayangnya bukan sebagai salah satu jamaah, namun sebagai jenazah yang dishalatkan.

Seringkali urusan dunia membuat kita terlena, dan melupakan urusan akherat. Sejujurnya yang namanya kewajiban, mau ngga' mau, siap ngga' siap wajib kita kedepankan. Seperti waktu kita mau UUB, THB, EBTANAS, UAN ato UAS, siap ngga' siap kita harus ngejalaninya. Seperti itu juga kewajiban agama. Menurut gue kesiapan itu hal yang belum pasti, sedangkan kematian merupakan hal yang pasti. Jadi sebelum kematian yang pasti datang walaupun entah kapan, bersegeralah beribadah. Ngga' cuma shalat sih, menutup aurat juga wajib, bersedekah juga merupakan keharusan, dan puasa harus kita jalankan. Gue yakin semua itu ngga' bakal mengganggu urusan kita di dunia, justru bakal menyempurnakannya, karena sejatinya tak ada kesuksesan yang melebihi kesuksesan dunia dan akherat. Dan waktu yang paling tepat untuk memulai sukses adalah segera. Semoga kita semua panjang umur, sehat selalu dan berbahagia. Aamiin ya Rabbal Alamin...
0 komentar

Buat Apa Kerja?

Beberapa waktu lalu gue jumpai difesbuk ada yg upload foto maling yg babak belur dihakimi massa. Diketerangan foto itu tertulis "Penampakan maling yang digebukin warga sampai hampir mati". Modusnya kayak yang sudah2, Butuh duit buat kebutuhan lantaran harga2 yg melonjak tinggi jelang lebaran. Sejenak gue berkesimpulan kemiskinan atau ketidakmampuan secara keuangan bisa memicu tindak kriminal.

Tak lama kesimpulan itu gue bantah sendiri. Ah belum tentu juga..!!? Pasti kenal sama yang namanya Lindsay Lohan kan? Artis yang sudah terlanjur kaya sedari kecil, namun keblinger dalam kehidupannya. Mulai dari kasus narkoba, hubungan sesama jenis, sampe kasus pencurian pernah menjerat doi.

Ada lagi, beberapa waktu lalu salah satu Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) yang juga pemilik perusahaan tambang batubara tewas gantung diri. Padahal kalau ditinjau dari penggolongan kemiskinan menurut orang awam, ato dari BPS sekalipun yang mengkategorikan orang miskin berdasar Indeks ambang kemiskinan, gue yakin mereka itu sangat jauh dari kata miskin. Tapi kenapa hidup mereka tak juga lurus? Dari kasus ini kesimpulan kedua gue adalah bergelimang harta juga dapat memicu seseorang terjerumus ke lembah kemaksiatan.

Mungkin benar pepatah bijak yang mengatakan sesuatu yang kurang itu ngga' baik, begitu juga sesuatu yang berlebihan. Yang terbaik adalah cukupan ato sedang-sedang saja. Berlakukah hal ini dalam hal keuangan? Lagi2 jawabnya belum tentu. 

Kalau menurut definisi gue, cukup dalam segi finansial di Indonesia itu ketika kita bisa mencukupi kebutuhan primer dan sekunder, kemudian mampu menyisikan sedikit dana untuk ditabung sehingga suatu saat bisa membeli barang tersier. Itu cuma gambaran dari gue sih, yang ga' setuju silahkan mendefinisikan sendiri. Hehehe

Tapi lagi2 gue menemukan contoh kasus yang mementahkan pemikiran gue. Masih inget nama Gayus Tambunan bukan? Yups pesohor dengan muka unyu yang terkenal lewat karyanya mengkorupsi duit pajak itu. GT sejatinya berprofesi sebagai pegawai pajak dengan gaji kira2 5-10 jt (maap kalau salah, namanya juga kira2). Bagi gue gaji segitu di Indonesia sudah lebih dari cukup untuk sekedar hidup layak, walaupun mungkin belum cukup untuk hidup mewah. Ya nyukup lah buat makan kenyang selama sebulan, nyekolahin anak, bayar listrik, cicilan motor sama ngasih sumbangan tetangga yang nikahan. Hidup seperti itu bagi gue sudah amat layak buat disyukuri. Tapi GT punya pendapat lain. Gaji halalnya saja belum cukup buat bikin dia bersyukur. Alhasil duit negara dia curi. Kemewahan semu menurut gue, dan sama sekali bukan pilihan bijak.

Mungkin perlu bagi kita buat meluruskan apa sebenarnya tujuan kita bekerja. Nyari duit sebanyak2nya untuk memenuhi kebutuhan sehari2, untuk sekedar buat makan, ato tujuan lain. Kalau dalam agama gue, esensi bekerja sangat jauh dari sekedar ngumpulin duit sebanyak2nya. Bekerja adalah salah satu ibadah, bahkan seorang yang bekerja dengan ikhlas dijalan Allah disejajarkan dengan pahala berjihad. Hasil akhir dari bekerja bukan sekedar jumlah nominal uang yang didapat, lebih dari itu seberapa berkah rizki yang kita dapat tersebut. Jumlah yang sedikit namun berkah jauh lebih berharga daripada yang banyak namun membawa kecemasan.

Mengutip perkataan orang bijak, sejatinya bekerja itu adalah untuk meningkatkan ibadah kita. Jika setelah bekerja kita justru semakin jauh dari ibadah, maka pasti ada yang salah. Salam Olahraga :)
 
;