Rabu, 31 Juli 2013

Buat Apa Kerja?

Beberapa waktu lalu gue jumpai difesbuk ada yg upload foto maling yg babak belur dihakimi massa. Diketerangan foto itu tertulis "Penampakan maling yang digebukin warga sampai hampir mati". Modusnya kayak yang sudah2, Butuh duit buat kebutuhan lantaran harga2 yg melonjak tinggi jelang lebaran. Sejenak gue berkesimpulan kemiskinan atau ketidakmampuan secara keuangan bisa memicu tindak kriminal.

Tak lama kesimpulan itu gue bantah sendiri. Ah belum tentu juga..!!? Pasti kenal sama yang namanya Lindsay Lohan kan? Artis yang sudah terlanjur kaya sedari kecil, namun keblinger dalam kehidupannya. Mulai dari kasus narkoba, hubungan sesama jenis, sampe kasus pencurian pernah menjerat doi.

Ada lagi, beberapa waktu lalu salah satu Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) yang juga pemilik perusahaan tambang batubara tewas gantung diri. Padahal kalau ditinjau dari penggolongan kemiskinan menurut orang awam, ato dari BPS sekalipun yang mengkategorikan orang miskin berdasar Indeks ambang kemiskinan, gue yakin mereka itu sangat jauh dari kata miskin. Tapi kenapa hidup mereka tak juga lurus? Dari kasus ini kesimpulan kedua gue adalah bergelimang harta juga dapat memicu seseorang terjerumus ke lembah kemaksiatan.

Mungkin benar pepatah bijak yang mengatakan sesuatu yang kurang itu ngga' baik, begitu juga sesuatu yang berlebihan. Yang terbaik adalah cukupan ato sedang-sedang saja. Berlakukah hal ini dalam hal keuangan? Lagi2 jawabnya belum tentu. 

Kalau menurut definisi gue, cukup dalam segi finansial di Indonesia itu ketika kita bisa mencukupi kebutuhan primer dan sekunder, kemudian mampu menyisikan sedikit dana untuk ditabung sehingga suatu saat bisa membeli barang tersier. Itu cuma gambaran dari gue sih, yang ga' setuju silahkan mendefinisikan sendiri. Hehehe

Tapi lagi2 gue menemukan contoh kasus yang mementahkan pemikiran gue. Masih inget nama Gayus Tambunan bukan? Yups pesohor dengan muka unyu yang terkenal lewat karyanya mengkorupsi duit pajak itu. GT sejatinya berprofesi sebagai pegawai pajak dengan gaji kira2 5-10 jt (maap kalau salah, namanya juga kira2). Bagi gue gaji segitu di Indonesia sudah lebih dari cukup untuk sekedar hidup layak, walaupun mungkin belum cukup untuk hidup mewah. Ya nyukup lah buat makan kenyang selama sebulan, nyekolahin anak, bayar listrik, cicilan motor sama ngasih sumbangan tetangga yang nikahan. Hidup seperti itu bagi gue sudah amat layak buat disyukuri. Tapi GT punya pendapat lain. Gaji halalnya saja belum cukup buat bikin dia bersyukur. Alhasil duit negara dia curi. Kemewahan semu menurut gue, dan sama sekali bukan pilihan bijak.

Mungkin perlu bagi kita buat meluruskan apa sebenarnya tujuan kita bekerja. Nyari duit sebanyak2nya untuk memenuhi kebutuhan sehari2, untuk sekedar buat makan, ato tujuan lain. Kalau dalam agama gue, esensi bekerja sangat jauh dari sekedar ngumpulin duit sebanyak2nya. Bekerja adalah salah satu ibadah, bahkan seorang yang bekerja dengan ikhlas dijalan Allah disejajarkan dengan pahala berjihad. Hasil akhir dari bekerja bukan sekedar jumlah nominal uang yang didapat, lebih dari itu seberapa berkah rizki yang kita dapat tersebut. Jumlah yang sedikit namun berkah jauh lebih berharga daripada yang banyak namun membawa kecemasan.

Mengutip perkataan orang bijak, sejatinya bekerja itu adalah untuk meningkatkan ibadah kita. Jika setelah bekerja kita justru semakin jauh dari ibadah, maka pasti ada yang salah. Salam Olahraga :)

0 komentar:

Posting Komentar

 
;